Sisi lain sepakbola

11 03 2008

Perekonomian / IndustriTak bisa dipungkiri bahwa sepakbola saat ini tidak bisa dipandang “hanya” sebagai suatu olahraga saja. Sepakbola telah ber-evolusi sejak dimainkan pertamakali oleh manusia. Sekarang kekuatan sepakbola sudah menjelma menjadi suatu kekuatan industri yang cukup menggiurkan, terutama di negara-negara Eropa yang sepakbolanya sudah dikelola secara profesional. Banyak klub sepakbola yang namanya sudah listing di lantai bursa, memiliki Marchendise Store yang tersebar dimana-mana, serta hak siar pertandingan yang dibeli oleh stasiun TV. Imbasnya tentu saja pemain-pemainnya memiliki pendapatan yang cukup tinggi, bahkan ada yang kontraknya setara dengan APBD suatu daerah di Indonesia.Memang terlalu naif jika kita membandingkan dengan negara-negara Eropa, karena merekapun mencapai hal tersebut melalui proses yang sangat panjang.

Lantas apa yang bisa kita jadikan acuan? Ada contoh sederhana yang menarik, tidak perlu jauh-jauh ke luar negeri, tetapi cukup Jawa Timur saja. Malang!! Ya… di kota dingin tersebut terdapat sebuah klub yang prestasinya dibanggakan oleh masyarakatnya. Jika kita saksikan diseputar kota, banyak sekali dijumpai orang-orang yang mengenakan pernak-pernik klub tersebut. Baik di jalan-jalan, di pusat perbelanjaan, apalagi di stadion saat pertandingan berlangsung. Yang mengenakannya pun dari semua lapisan strata sosial, mulai dari tukang becak, tukang bakso, tukang parkir, supir angkot, karyawan sampai orang bermobil mewah. Hal tersebut tentu saja tidak muncul secara tiba-tiba, akan tetapi melalui proses panjang yang pada akhirnya menghasilkan prestasi yang bisa dibanggakan masyarakatnya. Dengan adanya preastasi tersebut, dukungan menjadi meningkat. Hal itulah yang dilihat masyarakat kota Malang sebagai suatu peluang usaha, sehingga saat ini banyak sekali dijumpai toko-toko kecil yang menjual pernak-pernik atau atribut klub tersebut. Mulai dari kaos, jaket, syal, topi, boneka, gelas, dll. Efeknya tukang sablon kebanjiran order, pembuat kaos, jaket dan syal menjamur, pengrajin keramik dan pembuat boneka asapnya dapurnya semakin mengepul. Belum lagi jika ada pertandingan, penjual nasi, kue atau minuman dagangannya laris manis. Singkatnya home industry berkembang. Disamping itu dengan adanya prestasi klub tersebut, juga meningkatkan minat masyarakat untuk menekuni profesi sebagai pemain sepakbola, karena mereka bisa melihat bahwa reward yang diberikan klub cukup menggiurkan, seiring prestasi yang mereka torehkan. Secara tidak langsung sepakbola dapat menciptakan lapangan pekerjaan untuk masyarakat setempat.  MarketingKenyataan lain dalam sepakbola yang menjadi magnet bagi pelaku industri adalah bahwa olahraga ini memiliki penggemar paling banyak jika dibandingkan olahraga lainnya. Kondisi tersebut menjadi sasaran empuk perusahaan untuk mengiklankan atau memasarkan produknya, karena setiap pertandingan sepakbola akan disaksikan oleh jutaan pasang mata. Brand suatu produk yang biasanya menempel di kostum tim sepakbola ibarat iklan berjalan, ketika kostum tersebut dipakai oleh supporter-nya saat di stadion, dijalan atau ditempat-tempat lainnya. Tak heran jika perusahaan-perusahaan kelas kakap terus melakukan penetrasi dengan memanfaatkan kondisi tersebut. Contoh terbaru adalah salah satu perusahaan telekomunikasi seluler terbesar di Indonesia meluncurkan produknya dengan nama “Hyperbola” yang tentu saja target market-nya adalah penggila bola di tanah air. Selain itu hak siar penayangan kompetisi divisi utama liga indonesia saat ini juga sudah dibeli salah satu televisi swasta nasional selama 10 tahun. Hal tersebut sebenarnya bisa menjadi peluang bagi setiap tim (daerah) untuk mempromosikan produk unggulannya, sebagai konsekuensi dari pembiayaan klub tersebut yang berasal dari keuangan daerah. PERSELA Lamongan misalnya, bisa saja mempromosikan Wisata Bahari Lamongan (WBL) dengan menempelkan logo WBL di kostum timnya. Begitu pula tim daerah lain, tidak menutup kemungkinan bisa mempromosikan produknya lewat sepakbola. Kabupaten Tuban misalnya bisa saja mempromosikan Batik Gedog, Wisata Sunan Bonang, dll melalui tim Persatu Tuban jika Laskar Ronggolawe ini bisa sukses menembus kompetisi sepakbola tingkat nasioanal.HiburanDisaat perubahan sosial berlangsung cepat, semua elemen masyarakat akan menerima dampaknya, salah satunya adalah tingkat stress yang cukup tinggi terutama di kota-kota besar. Penyebabnya bisa bermacam-macam, mulai dari persaingan hidup yang semakin ketat, permasalahan sosial yang kompleks, tuntutan pekerjaan yang sangat tinggi, dll. Menyiasati kondisi tersebut, dalam ilmu psikologi “hiburan” dimasukkan sebagai salah satu kebuthan manusia. Hiburan disini tentunya bisa ditafsirkan macam-macam. Melihat yang terjadi saat ini bisa dikatakan pertandingan sepakbola adalah salah satu hiburan yang ditunggu-tunggu masyarakat. Di Indonesia bisa dilihat betapa orang begadang sampai larut malam demi menonton kejuaran Piala Dunia, Piala Eropa atau Liga Champion Eropa, meski hanya melalui stasiun TV. Untuk even lokal, tak jarang masyarakat berbondong bondong menuju stadion demi menyaksikan tim kesayangannya berlaga. Hal tersebut tentunya bisa dinilai sebagai bentuk wujud pencarian akan hiburan bagi masyarakat indonesia. Dengan datang ke stadion berramai-ramai bersama teman ataupun keluarga lengkap dengan pernak-pernik supporter, serta atraksi, gerakan dan nyanyian didalam stadion bisa memberikan kepuasan batin yang tidak ternilai, apalagi dikota-kota kecil yang relatif variasi hiburannya terbatas dibanding kota-kota besar.Dukungan dan Prestise Dari hal-hal tersebut dapat kita ungkap sebenarnya mengapa harapan publik terhadap prestasi suatu tim sepakbola begitu kuat. Ada hal-hal lain di “balik layar” sepakbola yang terkadang terlupakan. Pembangunan fisik memang penting, tetapi yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa memberikan rasa senang, hiburan atau bahkan prestise pada masyarakat tidak bisa dilupakan begitu saja. Dengan diberlakukannya Permendagri No.13/2006, dimana APBD yang dikhususkan untuk klub sepakbola dihapus dan dimasukkan dalam pos pendidikan atau lewat KONI, maka sebenarnya posisi tiap daerah adalah sama. Dana memang penting, tetapi tidak mutlak, sehingga tinggal bagaimana kemauan, kerja keras, serta dukungan semua lapisan elemen masyarakat yang akan berpengaruh terhadap prestasi suatu tim.

Dengan latar belakang itulah beberapa individu yang gila sepakbola mencoba untuk membentuk TPPI FC. Dari yang semula hanya setiap weekend kumpul di Stadion Lokajaya, mulai ditingkatkan untuk lebih terorganisir sehingga bisa bermanfaat baik untuk karyawan PT. TPPI maupun untuk masyarakat Tuban pada umumnya.


Tindakan

Information

5 tanggapan

13 03 2008
zhenck

Tulisan anda cukup menarik untuk dibaca, juga bisa menjadi inspirasi buat daerah untuk mengembangkan olahraga di daerah yang belum maju sepakbolanya. kalau nggak salah saya pernah baca artikel ini di harian Jawa Pos Radar Bojonegoro, berarti anda yang menulis itu. bagus…bagus…
Maju terusa sam…!!!

13 03 2008
hariyadi

that’s great!

Kita perlu belajar dari negara lain yg lebih maju, mengelola hal-hal positif seperti sepakbola, jauh lebih terasa manfaatnya & lebih membanggakan tentunya.

Kalo Tuban msh terus berputar2 di urusan politik, parpol, dsb dsb.. rasanya pemerintah Tuban perlu diajak diskusi mengenai tulisan di website ini atau bila perlu di-magangkan di Inggris atau Jepang saja, sebelum memerintah disini. Agar “melihat” bagaimana peradaban yg maju itu berproses & bergerak. Setuju?

Ok, selamat atas lahirnya sebuah visi penting demi kemajuan kota Tuban tercinta.

Salam,

19 03 2008
miko

eh ada yg tau jumlah klub sepak bola di jatim yang masih eksis dari divisi utama sampai divisi paling bawah berapa yah? suwun

3 04 2008
hakim batistuta

Selekom pak mok..
piye kabare? masih sering latihan bola ta?
Sori, aku sebenare gak mau banyak komentar mengenai pesepakbolaan di Tuban. Aku cuman mo tau, kapan kita bisa maen bola lagi ma temen² kayak dulu? hehe..

3 04 2008
nafuat

Halo Bang Bokir..
bener bang… nek aku melu ae bal-balan nang tuban
monggo diatur jadwale
salam

Tinggalkan komentar