Loyalitas Tanpa Batas (3-Habis)

22 04 2008

Seperti kebanyakan pemuda kota yang tinggal di kampung padat dan
miskin, Yuli gemar sepakbola dan sering terlibat tawuran (perkelahian
massal) antarkampung. “Buat saya dulu tawuran adalah bagian dari
sepakbola. Sepakbola nggak ada tawuran seperti sepakbola ban**,” kata
Yuli.

Ia kemudian bercerita, beberapa tahun lalu—sebelum menjadi
dirigen—bersama 30 temannya ia datang ke Jakarta untuk melihat Arema
bertanding. Ia berangkat dari rumah dengan sudah menyiapkan sebilah
pedang. “Waktu itu, ini perlengkapan standar,” katanya. Di Jakarta ia
terlibat bentrokan dengan kelompok Bonek di depan Stasiun Pasar
Senen. Mula-mula hanya saling melempar batu, tapi kemudian menjadi
saling kejar, memukul dengan potongan kayu atau besi, bahkan hingga
sabetan pedang. “Yang saya ingat, keesokan harinya saya baca di koran
ternyata ada 3 orang Bonek yang mati. Sementara kami semua selamat,”
katanya.[4]Yuli kini ingin melupakan masa lalunya. Di ruang tamu rumahnya yang
sempit, ia memasang dotonya ketika bersalaman dengan Ketua PSSI Agum
Gumelar. Di foto itu, Yuli—berambut gondrong dan berkaus Arema warna
biru—tampak tersenyum bangga. Katanya, “Saya diundang di acara
pembukaan Liga Indonesia dan dikirimi tiket pesawat untuk hadir
mewakili suporter”.

Karena tak bekerja, sehari-hari Yuli menghabiskan waktunya dengan
nongkrong sja. Saya ingat waktu bertemu dengannya pertama kali tiga
tahun lalu, ia tengah nongkrong di Salon Cimenk yang terletak
beberapa ratus meter saja dari rumahnya. Didik, pemilik salon ini,
adalah teman Yuli sesama Aremania. Ketika saya datang rupanya mereka
sedang membicarakan rencana menjahit pakain dirigen baru buat Yuli.
Untuk urusan dandanan Yuli mengaku memang sering dibantu Didik.
Sekali mencat rambut ia cuma akan membayar 10 atau 20 ribu. Tapi Yuli
lebih sering tak membyara, karena ia memang jarang punya cukup uang.
Suatu ketika karena merasa sungkan dan terlalu sering tidak membayar,
sebelum berangkat ke stadion Yuli pernah mencat saja rambut
gondrongnya dengan cat kayu, warna biru. Jelasnya, “Agar mudah
membersihkannya, saya lumuri dulu rambut saya dengan minyak goreng,
setelah itu baru saya cat. Saya ingin selalu bisa menarik perhatian
di lapangan.”

Yuli punya cukup banyak koleksi asesoris Aremania. Dengan bersemangat
ia menunjukkan koleksi kaus dan pakaian dirigennya pada saya. Yuli
punya macam-macam kaus Arema, dari kaus seperti yang dipakai para
pemain—warna biru putih—sampai kaus-kaus bergambar kepala singa,
lambang Arema, yang memang punya julukan sebagai tim Singo Edan
(singa gila). Kebanyakan kaus macam ini bertuliskan “Kera Ngalam”
atau “Ongis Nade”. Keduanya adalah bahasa slang Malang yang
berarti “Arek Malang” dan “Singo Edan”.

“Saya biasanya pakai kaus Arema, tapi bawahannya bisa ganti-ganti,
yang penting warna dan modelnya menyolok mata. Seorang teman suporter
pernah memberi saya pakaian Skotlandia,” kata Yuli sembari
mengeluarkan pakaian bermotif kotak-kotak khas skotlandia dari
lemarinya. Sebentar kemudian ia mengeluarkan lagi beberapa pakaian,
dari yang berbahan kulit sintetis hingga kain sarung dan kain perca.
Hampir semua pakaian ini dirancang sendiri oleh Yuli. Biasanya ia
mendapat ide model-model pakaian baru setelah menonton pertandiangan
sepakbola Liga Italia atau Inggris di televisi.

Saya membuka-buka koleksi foto Yuli. Ia memberikan penjelasan detil
untuk tiap foto yang saya lihat. Ketika saya sampai pada sebuh foto
yang memerlihatkan sepasang lelaki dan perempuan berbaju pengantin,
sementara di sekelilingnya adalah laki-laki dan peremuan yang
semuanya berkaos biru Arema, Yuli menjelaskan bahwa itu adalah acara
pernikahan seorang Aremania. Ia malah menceritakan tentang seorang
Aremania lain yang naik haji ke Mekkas dengan membawa syal dan
bendera Arema.

Kamar Yuli kecil saja, 3 kali 3 meter. Dindingnya dicat biru,
dipenuhi poster dan macam-macam hiasan dinding yang berbau Arema.
Sebuah poster paling besar, kira-kira berukuran 1 kali 1,5 meter,
dibuat dengan teknik cetak yang baik, memerlihatkan gambar kepala
singa, foto tim Arema, dan ribuan suporter Arema. Bagian bawah poster
itu bertuliskan “Di saat prestasi bangsa Indonesia sedang terpuruk,
bumi pertiwi bersimbah darah, nusantara sedang tercabik, Aremania
melalui panggung sepakbola telah membuat jutaan pasang mata di layar
kaca terkagum oleh sportivitas,” kemudian dilanjutkan dengan kalimat-
kalimat berbahasa Inggris, “Aremania, pride of the city, friendship
without frontier, footbal without violence, the incorporable
suporter, the incredible Malangese”.

Di kamar ini Yuli mengarang tarian dan lagu-lagu buat Aremania.
Sebenarnya ia tak benar benar-benar mengarang, ia hanya memodifikasi
saja syair lagu-lagu yang sudah asa, sementara nada dan iramanya
tetap dipertahankan. Seumbernya bisa datang dari mana saja. Bisa lagu-
lagu tentara Indonesia, lagu pop, lagu anak-anak, lagu pramuka, lagu
selamat ulang tahun, sampai lagu suporter Juventus, suporter
kesebalasan Cili, atau lagu marinir Amerika yang dilihatnya di film
atau televisi. Yuli hafal di luar kepala semua lagu yang berjumlah 30-
an itu. Untuk tarian, Yuli mengaku sekenanya saja. Prinsipnya adalah
ia harus bisa membuat gerakan tubuh yang mudah ditirukan dan dingat
orang lain. Menurut Yuli, seringkali para suporter juga memberikan
usulan tarian dan lagu baru beberapa saat sebelum sebuah pertandingan
dimulai.

Kini orang ramai berdatangan ke Stadion Gajayan. Mereka datang bukan
hanya untuk sepakbola, tetapi juga untuk melihat bagaimana Aremania
menyanyi dan menari. Dulu menonton sepakbola di Gajayan hanyalah
monopoli orang-orang pribumi laki-laki, tapi kini perempuan dan orang-
orang keturunan Cina juga datang menonton ke stadion. Hampir-hampir
tak ada lagi kerusuhan dan perkelahian.

“Cita-cita saya, pagar besi pembatas tribun dengan lapangan nanti
tidak perlu ada lagi. Jadi kita menonton sepakbola dengan enak, tidak
ada perkelahian, tidak ada suporter yang mengganggu pemain. Saya juga
ingin semua golongan bisa bersatu di sini. Kaya atau mniskin, laki-
laki atau perempuan, Cina atau bukan Cina, pejabat atau orang biasa,
Islam atau Kristen, di sini semuanya bisa sama,” kata Yuli.

 


Tindakan

Information

2 tanggapan

5 05 2008
Hariyadi

Sam Yuli..
Salut dengan cita-cita sampean
Terasa kadang ada yang hilang saat menjalani hidup ini
Persaingan dari segala penjuru & semua berlomba-lomba menunjukkan identitasnya
Memakai segala macam cara
Utk mengejar sesuatu yang bisa mati

Tapi sampean menemukan hal sungguh berbeda
Inspirasi penting bagi orang yg biasa menyepelekan sesuatu spt saya

bahwa
Sam Yuli sosok sederhana berdiri diatas sana..
Diantara tribun penonton
Menembus perbedaan
Memberi dukungan penuh
Mengobarkan semangat!

Persaudaraan
Loyalitas
Tanpa batas…!

Salam hangat,
Hariyadi
-Ronggomania-

12 06 2008
kecret

uuaaaapppiiiiikkkkk tenan blog -e om taufan !
btw, fic plantnya dah ada ijin buat di pajang ga ya ????
hhmmmm….

Tinggalkan komentar