Samsung ingin aliansi bangun pabrik aromatik

5 06 2009

Samsung Petrochemical berminat menjalin aliansi bisnis dengan PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) untuk merealisasikan pembangunan pabrik aromatik di Tuban, Jawa Timur.

Produsen petrokimia berbasis purified therepthalic acid (PTA)-bahan baku serat poliester-dan polyethylene therepthalate (PET) terbesar asal Korea Selatan ini ingin terlibat dalam proyek pembangunan pabrik aromatik yang diperkirakan menelan dana investasi sekitar US$500 juta.

“Mereka [Samsung] berminat [kerja sama], tetapi untuk sementara masih secara off take [kepastian pembelian pasokan bahan baku]. Detail kerja samanya akan dirinci lebih dalam. Sayangnya, sampai saat ini belum ada kesepakatan,” ujar Direktur Utama Tuban Petrochemical Industries Amir Sambodo, kemarin.

Samsung Petrochemical saat ini masih menggantungkan pasokan impor atas bahan baku berupa paraxylene dengan volume untuk memproduksi PTA sebanyak 1,8 juta ton per tahun dan beberapa produk turunan PTA seperti PET yang digunakan sebagai bahan baku kemasan plastik.

Samsung Petrochemical merupakan anak usaha Samsung Group yang didirikan pada 1974 secara patungan (joint venture) dengan porsi kepemilikan saham sekitar 50%, BP (eks-Amoco) sekitar 35%, dan Mitsui Chemical sekitar 15%.

Selain Samsung, lanjutnya, TPPI masih mencari mitra lain yang akan diajak beraliansi, asalkan menguasai saham mayoritas. “Di dalam negeri, kami juga sedang menjajaki berpartner dengan PT Pertamina [Persero].”

Di dalam industri petrokimia, aromatik merupakan salah satu produk turunan dari condensat naphta (produk sampingan dari minyak bumi).

Selain aromatik, kondensat nafta juga menghasilkan kelompok produk olefin seperti etilena dan propilena yang digunakan sebagai bahan baku di industri pengolahan plastik.

Sampai saat ini, terang Amir, TPPI yang merupakan produsen aromatik terbesar sedang menyelesaikan desain dasar pabrik yang diproyeksikan mulai dibangun pada 2010 dengan tambahan kapasitas 250.000 ton (45,45%) dari total kapasitas terpasang saat ini 550.000 ton.

Untuk itu, perseroan akan menambah fasilitas produksi berupa platformer yang berfungsi sebagai refinery (pengolahan minyak bumi/condensate naphta).

Cara tersebut dinilai lebih efektif daripada membangun refinery baru yang bisa menelan sekitar US$5 miliar, namun dengan kapasitas produksi yang sama.

Pabrik aromatik tersebut didesain untuk menghasilkan sejumlah bahan baku berupa xylene (bahan baku paraxylene), n-paraffine, toulene dan benzene.

Minta kepastian

Namun, agar ekspansi fasilitas produksi dapat berjalan optimal, TPPI membutuhkan pasokan kondesat nafta yang memadai. Sejauh ini, perseroan hanya dipasok BP Migas (Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas) sekitar 300.000 barel.

Dengan adanya ekspansi itu, TPPI membutuhkan tambahan pasokan kondensat sekitar 200.000 barel per hari.

“Kami minta dukungan BP Migas agar pasokan kondensat bisa aman,” jelasnya.

Direktur Industri Kimia Hulu Depperin Alexander Barus mengatakan untuk memacu investasi di sektor hulu, Depperin telah mengusulkan pengendalian ekspor produk nafta dan kondensat yakni dengan mengenakan bea keluar.

“Kami telah melayangkan surat resmi kepada Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Depkeu No. 303/ BPPI/.2/10/2008. Namun, sampai saat ini belum ada respons, padahal di sektor hulu sudah mulai menambah investasi,” katanya. (yusuf.waluyo@bisnis.co.id)


Tindakan

Information

Tinggalkan komentar